Kiat Menjadi Hamba Seutuhnya

Disusun oleh : Ustadz H. Abdul Aziz AR

(Direktur Aswaja NU Center PCNU Bangil dan Tim Narasumber Aswaja Center PWNU Jatim)

 

الحمد لله الذي عم الوجود برحمته٬ و أفاض على كل موجود سِجال نعمته٬ و عم الأنام ببحر جوده و كرمه ٬ سبحانه لا نحصي ثناء عليه٬ إن الأمر كله منه و إليه٬ لا إله إلا هو أحكم حاكم و أرحم راحم٬ أحمده سبحانه وتعالى و أشكره٬  و أتوب إليه و أستغفره٬ من جميع الذنوب و المأثم٬ و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له٬ شهادة من أمن بالله و ملائكته و كتبه و رسله٬ و أشهد أن سيدنا محمدا عبده و رسوله النبي الأواه٬ الذي لكل هم ملجأ و مستجار٬ أللهم فَصَلِّ وسلم على سيدنا محمد وعلى أله و أصحابه الطيبين الأخيار. أما بعد٬ فيا أيها الحاضرون٬ عليكم بثبوت الإيمان و التقوى بالله٬ فإن الفائزين هم المتقون .

معاشر المسلمين رحمكم الله

Dikesempatan yang berbahagia ini, dalam kekhusyu’an dan tadlorru’ kita beri’tikaf di masjid ini, marilah kita senantiasa mengingat dan mensyukuri ni’mat Alloh Swt sehingga mudah bagi kita untuk meningkatkan ibadah dan meningkatkan ketaqwaan kepadaNya. Sebab hanya taqwalah yang menjadi tolok ukur sebaik apa kita sebagai hamba dihadapanNya.

معاشر المسلمين رحمكم الله

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda :

أدِّ ما افترض الله عليك تكن أعبد الناس

“Penuhilah apapun yang diwajibkan Alloh kepada kalian, maka kalian adalah orang yang ahli ibadah”.

Orang mu’min dibagi menjadi 3 macam ketika dikaitkan dengan ibadah yang dilakukannya. Pertama, al-‘Abid atau mu’min yang ahli ibadah. Yaitu mu’min yang memenuhi semua kewajiban fardlunya tanpa menyentuh ibadah-ibadah yang sunnah. Yaitu mu’min pada tingkatan ini masih menganggap ibadah adalah suatu kewajiban, sehingga dengan hanya melakukan sholat fardlu maka ia sudah merasa cukup disebut sebagai hamba Alloh. Kedua, al-Mutaqorrib atau mu’min yang mendekatkan diri kepada Alloh. Mu’min yang memenuhi semua kewajiban fardlunya dan kemudian menyempurnakan dengan ibadah-ibadah yang sunnah. Mu’min pada tingkatan yang kedua ini, menganggap ibadah adalah suatu kebutuhan, bukan kewajiban. Sebab sebagai hamba yang lemah ia harus selalu mendapatkan lindungan dan pertolonganNya. Dan ia sadar bahwa lindungan dan pertolonganNya itu akan senantiasa menaunginya bila ia terus menerus berusaha mendekatkan dirinya kepada Alloh Swt. Ketiga al-Muhib atau mu’min yang mencintai Alloh. Yaitu mu’min yang melakukan semua perintah Alloh baik fardlu ataupun yang sunnah, semata-mata karena ia mencintai Alloh Swt. Tingkatan ketiga ini adalah tingkatan yang paling baik. Perwujudan dari pelaksanaan ibadah hanya karena ia mencintai Alloh, tanpa mengharapkan apapun. Hal ini pernah dicontohkan oleh Rabi’ah Al Adawiyah yang mengatakan: Andaikata Alloh melemparkan aku kedalam api neraka, aku rela, karena aku beribadah kepadaNya bukan karena mengharapkan sorga atau takut akan api neraka, tapi semata-mata karena aku mencintaiNya.

معاشر المسلمين رحمكم الله

واجتنب محارم الله تكن أزهد الناس

Dan jauhilah apapun yang diharamkan oleh Alloh, maka kau adalah manusia yang zuhud.

Zuhud atau membenci dunia bukan berarti sama sekali tidak menghendaki harta, jabatan dan segala hal yang bernuansa duniawi. Zuhud adalah tidak menempatkan dunia sebagai yang nomor satu dalam hidupnya. Sebab dunia dan perhiasan-perhiasannya dikepung oleh hal-hal yang diharamkan oleh Alloh. Maka ketika seseorang mau menjauhkan dirinya dari keharaman-keharaman, dan berusaha mendapatkan rizki dengan cara yang halal, menjalankan amanah dengan jujur, maka berarti ia telah berpaling dari dunia. Berbeda bila ia menempatkan dunia sebagai prioritas utama. Sehingga dalam pencapainnya ia tidak menghiraukan mana yang halal dan mana yang haram.

معاشر المسلمين رحمكم الله

وارض بما قسم الله لك تكن أغنى الناس

“Dan terimalah apa yang telah dibagikan Alloh kepadamu, niscaya kau adalah manusia yang paling  berkecukupan”.

Kekayaan bukanlah jaminan ketentraman bagi manusia sebagaimana yang menjadi anggapan kebanyakan orang. Ketentraman yang sesungguhnya adalah ketentraman hati. Banyak disekitar kita yang hartanya melimpah namun hatinya dipenuhi dengan gundah gulana, pikirannya terus terusik dengan aneka ragam masalah, sehingga jangankan menikmati kekayaan, untuk tidurpun ia susah. Bandingkan dengan orang-orang yang hidupnya sederhana, mereka menerima apa adanya, memanfaatkan yang mereka punya seraya mencari yang belum dipunya tanpa merasa sesal dan tanpa nelangsa. Mereka menerima semua pemberian Alloh dengan lapang dada seraya terus mendekatkan diri dengan tekun beribadah. Orang inilah yang pada hakikatnya adalah orang yang berkecukupan.

معاشر المسلمين رحمكم الله

Melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan dan menerima pemberian Alloh patut menjadi prinsip hidup bagi setiap muslim sebagai wujud kepribadian muslim sesungguhnya. Muslim yang mensyukuri anugerah Tuhannya yang diberikan tanpa terhitung nilainya. Namun tak dipungkiri, bahwa kesadaran akan hal ini mulai ditinggalkan, seiring munculnya masalah-masalah masyarakat yang beraneka ragam, ekonomi yang terjepit, rumah tangga yang amburadul, anak yang membangkang bahkan durhaka, kesehatan yang tidak membaik dan bermacam-macam masalah lainnya. Sehingga kadang seakan sudah tidak ada lagi yang patut disyukuri. Padahal, bila kita mau bertafakkur, berfikir dengan jernih, maka sesungguhnya ni’mat Alloh lebih besar diberikan kepada kita daripada cobaan dan ujiannya. Marilah, disaat kita kecewa terhadap satu hal, maka lihatlah bahwa masih ada anugerah lain yang kita punya dan tidak dipunyai orang lain. Semisal ketika ekonomi kita tidak segera terangkat namun malah semakin terpuruk, coba lihatlah bahwa kita masih memiliki badan dan jiwa yang sehat yang kadang tidak dimiliki oleh oang yang kaya raya. Atau ketika kita sedang terbujur sakit, maka ingatlah bahwa dalam sakit kita Alloh memberikan kita waktu untuk beristirahat, sehingga kita bisa terlepas sebentar dari rutinitas kita yang melelahkan. Begitu seterusnya.

معاشر المسلمين رحمكم الله

Diakhir khutbah pada kesempatan kali ini, mari kita memohon kepada Alloh Swt, mudah-mudahan kita selalu diberi kekuatan jasmani dan rohani untuk bekal ibadah kita, mudah-mudahan Alloh selalu memberi perlindungan kepada kita dari mengerjakan hal-hal yang tidak diridloiNya, mudah-mudahan Alloh memberikan kita hati yang lapang, yang mudah bersyukur atas semua karuniaNya. Dan mudah-mudahan Alloh memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang mendapat naungan Rohmatnya. Amien Yaa Robbal Alamin.

إن أحسن الكلام و أبلغ النظام٬ كلام الله الملك العلام٬ والله سبحانه و تعالى يقول٬ على لسان نبيه الأمين المأمون٬ وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُم مِّنَ السَّمَاء رِزْقًا وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلاَّ مَن يُنِيبُ * فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ * رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلاقِ * يَوْمَ هُم بَارِزُونَ لا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ * بارك الله لي لكم في القرآن العظيم٬ ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات و الذكر الحكيم٬ وتقبل مني ومنكم تلاوته٬ إنه تعالى جواد كريم , ملك برّ رؤف رحيم.

 

H. Abdul Aziz AR

https://www.nubangil.or.id

Direktur Aswaja NU Center PCNU Bangil dan Tim Narasumber Aswaja Center PWNU Jatim

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published.