Memahami Tradisi Ater-ater Jenang Suro

Ater-ater, istilah ini sudah saya kenal sejak saya masih imut-imut. Dulu, walaupun anak laki-laki, saya tak lepas dari perintah Umik untuk “ater-ater” ke tetangga di beberapa waktu khusus, seperti awal dan akhir Ramadhan (maleman), 7 hari setelah Idul Fitri (kupatan), 3 hari setelah Idul Adha, 10 Muharram (suroan), rabu terakhir bulan Safar (Rebo Wekasan), Malem 12 Rabiul Awal (Maulidan), 27 Rajab (rejeban) dan 15 Sya’ban.

Dari beberapa tradisi ater-ater ini, yang unik adalah Suroan dan Rebo Wekasan. Karena makanan yang “diantarkan” berupa bubur. Kalau yang untuk Rebo Wekasan disebut Jenang Sapar dan yang untuk Suroan disebut Jenang Suro.

Menurut hemat saya, tidak ada yang salah dengan tradisi ater-ater ini, malah sebaliknya, ada dampak yang sangat positif. Sebab dengan adanya tradisi ini, kerukunan semakin kuat, kebersamaan semakin terasa dan keharmonisan antar tetangga dan sanak famili semakin terjalin.

Tradisi saling mengirim hadiah sudah ditemukan sejak lama dan tidak ada Ulama yang mengkritisi hal ini hingga menganggap bid’ah segala. Syaikh Al-Arif As-Sya’rawy berkata :

كان التابعون يرسلون الهدية لأخيهم و يقولون نعلم غناك عن مثل هذا، و إنما أرسلناك ذلك لتعلم أنك منا على بال

“Para Tabi’in mempunyai tradisi mengirimkan hadiah kepada saudara-saudaranya. Mereka mengatakan : “Kami tahu kaubtak butuh yang semacam ini, tapi kami ingin kamu tahu kami peduli kepadamu“. (Faidl Al-Qadir, Juz 3 Hal. 272)

Selain itu, terdapat riwayat hadis dari Sahabat Abi Dzar bahwa Rasulullah Saw. bersabda :

يا أبا ذر إذا طبخت مرقة فأكثر ماءها و تعاهد جيرانك

Wahai Abu Dzar, jika kau memasak makanan berkuah, perbanyak airnya dan bagi-bagikan kepada tetanggamu“. (HR. Muslim)

Syekh Muhammad bin Ahmad bin Iyas Al Hanafy dalam Kitab Bada’iu Az-Dzuhur mengatakan :

قال الثعلبي كان استواء السفينة علي جبل الجودي يوم عاشوراء وهو العاشر من المحرم فصامه نوح شكرا لله تعالي وامر من كان معه بالصيام في ذلك اليوم شكرا علي تلك النعمة. ويروي ان الطيور والوحوش والدواب جميعهم صاموا ذلك اليوم ثم ان نوح اخرج ما بقي معه من الزاد فجمع سبعة اصناف من الحبوب وهي البسلة والعدس والفول والحمص والقمح والشعير والارز فخلط بعضها في بعض وطبخها في ذلك اليوم فصارت الحبوب من ذلك اليوم سنة نوح عليه السلام وهي مستحبة

Imam As Tsa’laby berkata : “Perahu Nabi Nuh berlabuh di Bukit Judy pada hari Asyura, yaitu hari ke sepuluh bulan Muharram. Dalam rangka mensyukurinya, Nabi Nuh berpuasa di hari itu, begitu pula semua burung, hewan liar dan hewan ternak semua ikut berpuasa. Lalu Nabi Nuh mengeluarkan sisa bekal yang masih ada, ternyata masih tersisa 7 macam bebijian yaitu Kacang Polong, Adas, Kacang Tanah, Buncis, Gandum, Sya’ir dan Beras. Nabi Nuh kemudian mencampur semuanya dan memasaknya untuk hari itu. Maka, sejak saat itu makanan campuran tersebut (bubur) menjadi makanan khas yang dianjurkan di masa Nabi Nuh.”

Semoga tulisan ini memotivasi para pembuat Jenang Suro agar tidak berhenti melestarikan tradisi baik ini. Kekhawatiran ini wajar bagi saya, karena sampai jam segini, belum ada kiriman Jenang Suro ke rumah saya.

H. Abdul Aziz AR

Direktur Aswaja NU Center PCNU Bangil dan Tim Narasumber Aswaja Center PWNU Jatim

Next Post

Musker PCNU Bangil, Ketua Tanfidziyah Ajak Memajukan NU

Sat Sep 21 , 2019
Prigen, NU Bangil Online Sebagai bentuk pematangan dan fiksasi program kerja, PCNU Bangil masa khidmat 2019-2024 menggelar acara Musyawarah Kerja 1, Sabtu-Minggu, 21-22 September 2019, bertempat di Hotel Permata Ibu, Prigen, Pasuruan. Acara yang dihadiri oleh seluruh pengurus cabang, mulai dari jajaran mustasyar, syuriyah, tanfidziyah, lembaga, banom, MWCNU, dan undangan […]